Air Lorihua

Wisata Alam

01. Pantai Gusepa
02. Pantai Aer Sopapei
03. Air Lorihua
04. Pantai Natsepa
05. Rujak Natsepa

Nikmati Keindahan Alam yang mempesona di Wai (Aer) Lorihua

Kisah Wai (Aer) Lorihua Negeri Suli

Negeri atau desa Suli terletak di tepi pantai teluk Baguala yang terdapat di pulau Ambon. Negeri ini tidak begitu besar, namun sangat terkenal dengan keindahan alam ditepi pantai negeri tersebut. Pantai Natsepa adalah salah satu tempat di tepi laut yang sangat indah pemandangannya dengan pasir putihnya yang halus, sehingga sangat banyak di kunjungi oleh orang terutama pada hari minggu dan hari-hari libur lainnya.

Bilamana kita datang ke pantai itu pada hari Minggu, di sana sudah banyak sekali orang, ada yang mandi-mandi, ada sebagian yang duduk saja sambil berceritera ada pula yang bermain bola di tepi pantai dan sebagainya. Pantai yang indah itu menjadi sasaran banyak orang yang ingin melepaskan lelahnya di hari libur dan itulah pantai “petuanan” (wilayah) Negeri Suli.

Di pihak lain bila kita mempelajari dengan seksama sejarah negeri-negeri khususnya di daerah Kabupaten Maluku Tengah, akan jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya negeri-negeri yang ada sekarang adalah negeri yang baru. Negeri tua menurut istilah orang di Maluku Tengah berada di tempat lain. Negeri tua itu ada yang dekat tetapi ada pula yang jauh letaknya dari negeri yang sekarang didiami itu.

Sama halnya yang dialami oleh masyarakat negeri Suli. Dahulu kala di Negeri Amansurit yaitu negeri tua dari negeri Suli sekarang terdapat 4 (empat) Soa, yaitu :

  1. Soa Latuslamu
  2. Soa Amalatuei
  3. Soa Wainusalaut
  4. Soa Amarumatena

Soa adalah kumpulan dari beberapa rumah tua menjadi satu yang aman (hena) yang dapat dianggap sebagai satu klan. Ini berarti negeri Suli terdiri dari empat Soa di mana masing-masing Soa waktu itu dipimpin oleh seorang Kapitan. Antara keempat Soa ini terjadi pertentangan yang satu dengan yang lainnya. Akibatnya situasi dalam negeri Amansurit tidak tenteram. Oleh karena itu ketiga Kapitan berkumpul untuk merundingkan cara yang tepat demi terciptanya keamanan dan ketenteraman di negeri atau desa mereka.

Perundingan tadi menghasilkan keputusan bahwa mereka harus mencari tempat baru untuk dapat dijadikan negeri baru yang dapat menjamin keamanan dan ketenteraman negeri. Hal ini disebabkan karena kedudukan Soa-soa tadi kurang serasi untuk dapat menciptakan rasa kerukunan hidup dalam negeri. Timbul persoalan, yaitu tempat yang bagaimanakah yang harus mereka bingungkan agar cocok dijadikan perkampungan baru bagi anak buah mereka, atau persyaratan apakah yang harus dipenuhi oleh tempat yang akan dicari itu agar cocok dijadikan negeri baru bagi mereka. Tetapi masalah ini tidak dipikirkan oleh ketiga Kapitan itu.

Dalam perundingan tersebut telah diputuskan bahwa untuk menentukan tempat yang baru bagi negeri mereka, yaitu Kapitan ketiga harus pergi ke atas bukit yang terkenal dengan nama Bukit Amahuing. Dari masing-masing Kapitan akan melemparkan tombak sejauh kemampuan masing-masing. Pada tempat di mana tombak yang terjauh pelemparannya tertancap diatas tanah, maka tanah di sekitar tombak itu tertancap akan dijadikan negeri atau perkampungan baru bagi mereka.

Selesai perundingan itu, maka berjalanlah ketiga Kapitan tadi menuju bukit Amahuing. Dari sana mereka seolah-olah berlomba melempar tombak, dan ternyata Kapitan Wainusalaut yang menang karena lemparannya yang cukup jauh. Sesudah itu Kapitan ketiga tadi kembali ke negeri Amansurit dan memerintahkan seluruh anak buah mereka beralih tempat membangun negeri baru di tempat yang sudah ditentukan bersama oleh ketiga Kapitan mereka yaitu di atas tanah sekitar tertancapnya tombak Kapitan Wainusalaut. Ketika semua orang sudah menduduki tempat yang baru itu yang kini terkenal dengan nama Negeri Suli.

Sekarang untuk menghormati Kapitan Wainusalaut maka pada tanah di mana tombak Kapitan Wainusalaut tertancap dibangunkan Baeleu atau rumah adat dari negeri Suli sekarang dan diberi nama “Lea Musa.” Pada mulanya kehidupan dalam negeri yang baru itu mendatangkan udara kerukunan dan kenteraman. Namun situasi yang aman dan tenteram tidak dapat berlangsung lama karena kenyataan di tempat itu tidak ada sumber udara. Ini menimbulkan kegelisahan baru bagi kehidupan masyarakat negeri Suli.

Muncullah kini berbagai macam keluhan yang disampaikan oleh anak-anak negeri pada ketiga Kapitan mereka. Keluhan-keluhan itu lebih-lebih ditujukan kepada Kapitan Wainusalaut karena dialah yang telah menentukan tempat itu untuk dijadikan negeri baru sesuai petunjuk lemparan tombaknya. Melihat situasi yang mulai keruh, aneka ragam orangutan yang dilontarkan oleh masyarakat negeri kepada Kapitan Wainusalaut, maka istri Permata Kapitan menjadi sangat prihatin. Dalam situasi yang disebutkan inilah timbullah tekad di dalam hati untuk berusaha mencari dan mendapatkan sumber air agar kericuhan dalam negeri dapat diatasi sekaligus nama baik suami dapat dikembalikan ke tengah-tengah masyarakat.

Pada suatu hari Permata dengan hanya berbekalan sirih pinang dan kapur, dia keluar dari rumahnya lalu berjalan mencari sumber air keliling negerinya. Permata berjalan mengelilingi negeri dengan penuh kedamaian. Langkah demi langkah disertai perhatian yang serius dan tangan yang mencakar ke kiri dan ke kanan kalau-kalau ada sumber air di sana. Setelah beberapa jam lamanya ia menjalankan tugas ini maka Permata menjadi sangat lelah lagi lapar, ketika ia sudah berada ditengah-tengah negeri/desa. Untuk melepaskan lelah pergilah ia menuju sebuah karang yang terdapat di sana. Setibanya di sana, maka duduklah ia di atas sebuah batu karang tersebut untuk melepaskan pena sambil makan pinang.

Ketika pinangnya sudah dikeluarkan dan pada saat pinangnya hendak dibelah, maka pinang itu terlepas jatuh dari tangan terguling ke bawah. Tiba-tiba Permata menjadi sangat terkejut karena dari tengah-tengah batu karang tempat ia sedang duduk itu keluarlah sebuah mata air dan mengalir mengikuti jalur di mana pinangnya jatuh terguling tadi. Oleh karena begitu gembiranya melihat sumber udara tadi maka hilanglah rasa lapar, lelah serta dahaganya lalu berlarilah Permata menyatakan kabar gembira ini kepada seluruh masyarakat negeri itu.

Mendengar berita Permata itu datanglah masyarakat untuk menyaksikan sekaligus mengambil air dari sana. Air tersebut lalu diberi nama “Wai Larihua” (Wai = udara/sungai, Larihua = pinang terguling). Jadi WaiLarihua artinya air/sungai muncul karena mengikuti arah pinang terguling. Adanya sumber air Larihua tentu sangat menyenangkan masyarakat negeri Suli. Namun dengan adanya hanya satu sumber yang menjadi sasaran seluruh masyarakat di sana tentu akan menimbulkan ketegangan-ketegangan kecil.

Untuk menghilangkan ketegangan kecil itu serta demi terciptanya suasana rukun bagi kehidupan masyarakat negeri Suli, maka Kapitan ketiga yakni Amarumatena, Latuslamu dan Wainusalaut pergi ke suatu empat yang kini disebut “Waiputi”. Ketika mereka tiba disana, mereka mengadakan satu upacara adat. Selesai upacara tersebut maka mereka secara serempak menikamkan tombak mereka di satu tempat dan terpancarlah sebuah air mata.

Dari mata air itu mengalirlah anak sungai dari Timur ke Barat membagi negeri Amansurit menjadi dua, dan sampai ditengah-tengah negeri bertemu dengan aliran Wai Lorihua selanjutnya menjadi satu dan mengalir terus ke pantai negeri Suli. Sampai saat ini Wai Lorihua selalu memancarkan airnya yang jernih, tidak pernah kering walaupun musim kering/kemarau berjalan agak panjang dan di sekitar batu karang dari mana sumber udara itu berasal tidak ada pohon-pohon pelindung.

KONTAK KAMI

Hubungi Kami

Siap untuk mendapatkan layanan terbaik kami! Jangan ragu untuk menghubungi kami.

GALERI

Jelajahi Keindahan Air Lorihua dari Setiap Sudut